Ilmu kimia merupakan suatu pengetahuan yang memiliki karakteristik
tersebut, maka materi kimia tidak dapat dikatakan mudah atau terlalu sulit.
Pengembangan kimia memerlukan suatu metode dan pendekatan yang dapat memberikan
kemudahan dalam memahami materi kimia tersebut (Anonim, 2003). Karakteristik
materi kimia adalah (1). bersifat abstrak, (2). bersifat kompleks, hirarkis,
dan multidisiplin, serta (3). melibatkan operasi analitis.
Eksperimen IPA (khususnya kimia) dengan menggunakan bahan alam yang
ada di sekitar kita untuk pembelajaran kimia telah banyak dilakukan antara
lain; Duffy (1995) dan Derr (2000) melakukan percobaan dengan menggunakan proses
pelarutan garam dapur sebagai contoh perubahan fisika dan reaksi antara cuka
dengan soda kue yang menghasilkan karbondioksida sebagai contoh perubahan
kimia. Synder (1992) mempelajari reaksi kesetimbangan pada botol minuman soda
yang diberi indikator asam-basa, namun cara yang berbeda dilakukan oleh Kanda
(1995) untuk mempelajari pengaruh konsentrasi asam-basa pada reaksi
kesetimbangan indikator alam.
Kimia merupakan ilmu pengetahuan yang termasuk ke
dalam rumpun IPA yang memiliki karakteristik sama dengan IPA. Kimia bukan hanya
kumpulan pengetahuan berupa fakta, konsep, atau prinsip saja, tetapi juga merupakan
suatu proses penemuan. Ilmu kimia hakikatnya dipandang sebagai suatu proses.
Salah satu upaya untuk mencapainya adalah dengan diterapkannya metode praktikum
dalam pembelajaran di sekolah (Depdiknas, 2003). Sebagian besar pokok bahasan dalam
mata pelajaran kimia memerlukan penguatan pemahaman dan pengembangan wawasan
melalui penerapan metode praktikum. Metode praktikum merupakan salah satu
metode yang sangat tepat diterapkan dalam pembelajaran kimia terutama untuk
materi yang bersifat fakta, karena metode ini memberikan kesempatan kepada
siswa untuk menemukan sendiri fakta yang diperlukan untuk meningkatkan
penguasaan dan pemahamannya terhadap materi kimia yang dipelajarinya. Selain
itu, kegiatan praktikum juga dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa untuk
mempelajari ilmu kimia lebih mendalam. Pelaksanaan kegiatan praktikum kimia di sekolah
masih belum terlaksana secara optimal, baik dari segi kuantitas maupun
kualitas. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti lain mengenai
frekuensi pelaksanaan metode praktikum dan keterlaksanaan praktikum kimia di
sekolah, diperoleh data bahwa pembelajaran kimia dengan metode sekolah. Dari
tujuh sekolah yang diteliti, hanya ada tiga sekolah yang melakukan kegiatan
pembelajaran kimia dengan menggunakan metode praktikum. Ini menunjukkan bahwa
pembelajaran kimia dengan menggunakan metode praktikum yang dilakukan di
sekolah masih sangat rendah frekuensi pelaksanaannya, padahal kegiatan
praktikum itu harus diterapkan dalam pembelajaran kimia sesuai dengan karakteristik
dari materi kimia yang disampaikan. Rendahnya frekuensi pelaksanaan praktikum
ini menyebabkan kemampuan siswa dalam melakukan praktikum menjadi kurang karena
jarang diasah. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kegiatan praktikum jarang
dilakukan, antara lain faktor fasilitas sekolah dan biaya pelaksanaan
praktikum. Menurut Musrifah (2010), salah satu kendala dalam pelaksanaan
praktikum sekolah adalah sarana dan prasana sekolah yang kurang memadai untuk
dapat melaksanakan kegiatan praktikum di sekolah. Tidak semua sekolah memiliki
fasilitas lengkap seperti ruang laboratorium untuk dapat melakukan kegiatan
praktikum kimia. Padahal menurut peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik
Indonesia Nomor 40, fasilitas yang harus tersedia untuk laboratorium IPA antara
lain: bangunan/ruang laboratorium, perabot, peralatan pendidikan, alat dan
bahan percobaan, media pendidikan, bahan habis pakai, dan perlengkapan lainnya.
Selain itu, besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli alat-alat dan
bahan-bahan praktikum masih dirasa berat bagi sekolah karena kegiatan praktikum
di sekolah umumnya masih dilakukan secara konvensional.Untuk mengatasi
permasalahan tersebut, maka guru dapat melakukan kegiatan praktikum dengan
menggunakan metode praktikum kimia skala kecil. Penggunaan metode praktikum
skala kecil memiliki beberapa keunggulan, antara lain mengikuti prinsip green
chemistry, yaitu menggunakan alat dan bahan dalam jumlah yang sedikit, sehingga
dapat mengurangi biaya serta limbah kimia yang dihasilkan. Selain itu, kegiatan
praktikum kimia skala kecil dapat dilaksanakan di dalam kelas (tidak harus di
laboratorium) karena semua alat dan bahan praktikumnya sudah tersedia di dalam praktikum
kimia skala kecil yang dapat dibawa ke dalam kelas. praktikum kimia skala kecil
yang sudah ada merupakan hasil pengembangan yang dilakukan oleh Mulyono HAM. Di
dalam praktikum kimia skala kecil sudah tersedia buku pedoman serta prosedur praktikum
kimia skala kecil. Salah satu materi kimia SMA kelas XI yang dapat diajarkan
dengan menggunakan praktikum kimia skala kecil adalah hidrolisis garam.
PERMASALAHAN :
Jika di satu sekolah tidak ada ruangan untuk laboratorium, menurut teman-teman bagaimana cara mengantisipasi hal tersebut?
jika tidak ada laboratorium di sekolah itu maka disinilah kreativitas dan ide dari seorang guru dibutuhkan, seperti si guru dapat melakukan praktikum di kelas dengan cara demonstrasi, atau memutar video yang di dalamnya berisi materi yang akan di praktikumkan, dan hal lainnya.
BalasHapushal tersebut dapat diatasi dengan cara memahami konsep berdasarkan fenomena yang ada dalam kehidupan serta bahan bahan dan alat sederhana yang di buat berdasarkan kreativitas guru dan siswa. Contoh praktikum yang dapat dilakukan dengan metode ini misalnya teori asam basa,larutan elektrolit-non elektrolit, dan lain lain
BalasHapusseperti teori asam basa itu penerapannya seperti apa? apakah dengan memutar video atau seperti apa?
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus