Selasa, 14 Maret 2017

Sistem Penilaian Otentik Tentang Kemajuan Belajar Kimia Siswa di SMP Dan SMA



Penilaian autentik (authentic assessment) adalah bentuk penilaian yang meminta peserta didik menunjukkan kinerja dalam konteks dunia nyata yang menunjukkan aplikasi bermakna dari penerapan pengetahuan dan keterampilan Penilaian autentik adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Pada standar nasional pendidikan, penilaian pendidikan merupakan salah satu standar yang bertujuan untuk menjamin perencanaan penilaian peserta didik sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai dan berdasarkan prinsip prinsip penilaian serta pelaksanaan penilaian peserta didik secara professional, terbuka, eduktif, efektif, efesien, dan sesuai dengan konteks social budaya; dan pelaporan hasil penilaian peserta didik secara objektif, akuntabel, dan informative. (Mueller, 2013).
Penilaian autentik merupakan pendekatan dan instrument penilaian yang memberikan kesempatan luas kepada peserta didik untuk menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang sudah dimiliknya dalam bentuk tugas- tugas : membaca dan meringkasnya, eksperimen, mengamati, survey, proyek, makalah, membuat multimedia, membuat karangan dan diskusi kelas. Kata lain dari penilaian autentik adalah penilaian kinerja, termasuk didalamnya penilaian portofolio dan penilaian projek. (Kemendikbud. 2015 : 40 ).
Berdasarkan beberapa sumber diatas bahwa didalam kurikulum suatu penilaian merupakan suatu penekanan. Karena penilaian autentik merupakan salah satu hasil laporan peserta didik secara objektif. Selain itu, penilaian autentik juga dapat memberikan kesempatan seluas - luasnya kepada peserta didik untuk menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang sudah tertanam dalam dirinya. Adapula beberapa perbedaan penilaian autentik dan penilaian tradisional dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.1 Perbedaan Penilaian Tradisional dan Penilaian Autentik

Penilaian Tradisional

Penilaian Autentik
Penilaian tradisional meminta peserta didik memilih jawaban dari beberapa pilihan (misalnya pilihan ganda) dengan tepat.
Penilaian autentik meminta peserta didik untuk menunjukkan pemahaman dengan melakukan tugas yang lebih kompleks dan biasanya mewakili aplikasi yang lebih bermakna.
Penilaian tradisional menggunakan tes yang dibuat untuk menunjukkan penguasaan suatu pengetahuan.
Penilaian autentik meminta peserta didik untuk menunjukkan kemampuannya dengan melakukan sesuatu seperti dalam dunia nyata.
Penilaian tradisional meminta peserta didik untuk mengingat kembali pengetahuan yang diperoleh.
Penilaian autentik meminta peserta didik untuk menganalisis, mensintesis, dan menerapkan apa yang telah mereka pelajari secara substansial.
Guru membuat tes dan jawaban untuk mengukur kemampuan peserta didik.
Peserta didik memilih dan mengonstruksi jawaban yang menunjukkan kemampuannya.
Penilaian tradisional tidak dapat membuktikan kemampuan peserta didik secara langsung.
Penilaian autentik membuktikan kemampuan peserta didik secara langsung melalui aplikasi dan konstruksi pengetahuan.

Penilaian yang baik tidak hanya dilakukan di akhir kegiatan belajar mengajar tetapi juga dilakukan sepanjang proses pembelajaran. Oleh karena itu, penilaian tradisional maupun penilaian autentik sama-sama diperlukan dalam pembelajaran. Penilaian autentik digunakan pada penilaian dalam proses pembelajaran, sedangkan penilaian tradisional lebih praktis digunakan dalam ujian akhir.
Penilaian autentik memiliki persamaan dengan beberapa istilah penilaian, yaitu penilaian berbasis kinerja, penilaian langsung, dan penilaian alternatif Penilaian autentik memiliki persamaan dengan penilaian berbasis kinerja karena peserta didik diminta untuk melakukan tugas-tugas yang bermakna. Penilaian autentik disebut penilaian langsung karena penilaian autentik memberikan bukti lebih langsung dan aplikasi bermakna dari pengetahuan dan keterampilan. Penilaian autentik disebut juga dengan istilah penilaian alternatif karena penilaian autentik merupakan suatu alternatif bagi penilaian tradisional. (Mueller, 2013).
Penilaian autentik dan penilaian tradisional meskipun memiliki beberapa persamaan namun, tingkat keobjektifan nya lebih mengacu pada jenis penilaian autentik. Dalam penilaian autentik tentu peserta didik dituntut untuk lebih ditekankan pada dunia nyata seperti peserta didik dituntut untuk menunjukan kemampuannya. Penilaian autentik juga menuntut peserta didik dapat berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran seperti peserta didik mampu menganalisis, mensintesis dan menerapkan apa yang telah dipelajari secara subtansial baik dari segi sikap, keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki oleh peserta didik tersebut.

Menurut (Kunandar, 2013 : 36) ada beberapa ciri dari penilaian autentik adalah:
1. Harus mengukur semua aspek pembelajaran, yakni kinerja dan hasil atau produk. Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik harus mengukur aspek kinerja (performance) dan produk atau hasil yang dikerjakan oleh peserta didik.
2. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung. Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik, guru dituntut untuk melakukan penilaian terhadap kemampuan atau kompetensi proses (kemampuan atau kompetensi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran) dan kemampuan atau kompetensi peserta didik setelah melakukan kegiatan pembelajaran.
3. Menggunakan berbagai cara dan sumber. Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik harus menggunakan berbagai teknik penilaian (disesuaikan dengan tuntutan kompetensi) dan menggunakakn berbagai sumber atau data yang bisa digunakan sebagai informasi yang menggambarkan penguasaan kompetensi peserta didik).
4. Tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian. Artinya, dalam melakukan penilaian peserta didik terhadap pencapaian kompetensi tertentu harus secara komprehensif dan tidak hanya mengandalkan hasil tes semata.
5. Tugas - tugas yang diberikan kepada peserta didik harus mencerminkan bagian-bagian kehidupan peserta didik yang nyata setiap hari, mereka harus dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan setiap hari.

6. Penilaian harus menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian peserta didik, bukan keluasannya (kuantitas).

Kelebihan Penilaian Autentik
Ismet Basuki dan Hariyanto (2014: 175) dalam Ade Cyntia mengungkapkan bahwa dalam penilaian autentik selain memiliki beberapa keunggulan penilaian autentik juga memiliki. Adapun keunggulan dalam penilaian autentik tersebut, yaitu:
1. Berfokus pada keterampilan analisis dan keterpaduan pengetahuan.
2. Meningkatkan kreativitas
3. Merefleksikan keterampilan dan pengetahuan di dunia nyata.
4. Mendorong kerja kolaboratif.
5. Meningkatkan keterampilan lisan dan tertulis.
6. Langsung menghubungkan kegiatan asesmen, kegiatan pengajaran, dan tujuan pembelajaran.

7. Menekankan kepada keterpaduan pembelajaran di sepanjang waktu 

PERMASALAHAN :
Guru dapat menggunakan penilaian autentik dalam kegiatan pembelajaran. Hal-hal apa saja yang harus diperhatikan oleh guru dalam melakukan penilaian autentik?


3 komentar:

  1. hal hal yang harus diperhatikan guru pada penilaian autentik adalah :

    1. Harus mengukur semua aspek pembelajaran, yakni kinerja dan hasil atau produk. Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik harus mengukur aspek kinerja (performance) dan produk atau hasil yang dikerjakan oleh peserta didik.
    2. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung. Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik, guru dituntut untuk melakukan penilaian terhadap kemampuan atau kompetensi proses (kemampuan atau kompetensi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran) dan kemampuan atau kompetensi peserta didik setelah melakukan kegiatan pembelajaran.
    3. Menggunakan berbagai cara dan sumber. Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik harus menggunakan berbagai teknik penilaian (disesuaikan dengan tuntutan kompetensi) dan menggunakakn berbagai sumber atau data yang bisa digunakan sebagai informasi yang menggambarkan penguasaan kompetensi peserta didik).
    4. Tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian. Artinya, dalam melakukan penilaian peserta didik terhadap pencapaian kompetensi tertentu harus secara komprehensif dan tidak hanya mengandalkan hasil tes semata.
    5. Tugas - tugas yang diberikan kepada peserta didik harus mencerminkan bagian-bagian kehidupan peserta didik yang nyata setiap hari, mereka harus dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan setiap hari.

    6. Penilaian harus menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian peserta didik, bukan keluasannya (kuantitas).

    BalasHapus
  2. Hal yang harus diperhatikan guru : Peserta didik diminta untuk merefleksikan dan mengevaluasi kinerja mereka sendiri dalam rangka meningkatkan pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan pembelajaran serta mendorong kemampuan belajar yang lebih tinggi. Pada asesmen autentik guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, kajian keilmuan, dan pengalaman yang diperoleh dari luar sekolah.
    Asesmen autentik mencoba menggabungkan kegiatan guru mengajar, kegiatan siswa belajar, motivasi dan keterlibatan peserta didik, serta keterampilan belajar. Karena penilaian itu merupakan bagian dari proses pembelajaran, guru dan peserta didik berbagi pemahaman tentang kriteria kinerja. Dalam beberapa kasus, peserta didik bahkan berkontribusi untuk mendefinisikan harapan atas tugas-tugas yang harus mereka lakukan.
    Asesmen autentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik, karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang subjek. Asesmen autentik harus mampu menggambarkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik, bagaimana mereka menerapkan pengetahuannya, dalam hal apa mereka sudah atau belum mampu menerapkan perolehan belajar, dan sebagainya. Atas dasar itu, guru dapat mengidentifikasi materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan untuk materi apa pula kegiatan remidial harus dilakukan.
    Selain itu juga Penilaian yang harus dilakukan pendidik :
    1) Belajar Tuntas (mastery learning) . Peserta didik tidak diperkenankan mengerjakan pekerjaan berikutnya, sebelum mampu menyelesaikan pekerjaan dengan prosedur yang benar dan hasil yang baik. (John B. Carrol, A Model of School Learning).
    2) Otentik (telah diuraikan di atas);
    3) Berkesinambungan yaitu memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil terus menerus dalam bentuk Ulangan Harian, Ulangan Tengah Semester, Ulangan Akhir Semester, dan Ulangan Kenaikan Kelas;
    4) Berdasar Acuan Kriteria/Patokan
    Mengacu ukuran pencapaian kompetensi/patokan yang ditetapkan.
    Prestasi kemampuan peserta didik TIDAK DIBANDINGKAN dengan peserta kelompok, tetapi dengan kemampuan yang dimiliki sebelumnya dan patokan yang ditetapkan;
    5) Menggunakan Berbagai Cara & Alat Penilaian
    Mengembangkan dan menyediakan sistem pencatatan yang bervariasi.
    Menggunakan penilaian yang bervariasi: Tertulis, Lisan, Produk, Portofolio, Unjuk Kerja, Proyek, Pengamatan, dan Penilaian Diri.

    BalasHapus
  3. jadi dapat disimpulkan bahwa hal-hal yang harus diperhatikan oleh guru itu dalam penilaian autentik adalah penilaian yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung baik itu dari awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran. karena penilaian autentik terdiri dari 3 aspek yaitu aspek afektif, psikomotorik,dan kognitif.

    BalasHapus

Penelitian Tindakan Kelas Pada Pembelajaran Kimia

1. Penelitian Tindakan Kelas Menurut Tim Pelatih Proyek PGSM (M.Nur, 2001) dikemukakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu b...