Penilaian
autentik (authentic assessment) adalah bentuk penilaian yang meminta
peserta didik menunjukkan kinerja dalam konteks dunia nyata yang menunjukkan
aplikasi bermakna dari penerapan pengetahuan dan keterampilan Penilaian autentik
adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian
hasil belajar peserta didik. Pada standar nasional pendidikan, penilaian
pendidikan merupakan salah satu standar yang bertujuan untuk menjamin
perencanaan penilaian peserta didik sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai
dan berdasarkan prinsip prinsip penilaian serta pelaksanaan penilaian peserta
didik secara professional, terbuka, eduktif, efektif, efesien, dan sesuai
dengan konteks social budaya; dan pelaporan hasil penilaian peserta didik
secara objektif, akuntabel, dan informative. (Mueller, 2013).
Penilaian
autentik merupakan pendekatan dan instrument penilaian yang memberikan
kesempatan luas kepada peserta didik untuk menerapkan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap yang sudah dimiliknya dalam bentuk tugas- tugas :
membaca dan meringkasnya, eksperimen, mengamati, survey, proyek, makalah,
membuat multimedia, membuat karangan dan diskusi kelas. Kata lain dari
penilaian autentik adalah penilaian kinerja, termasuk didalamnya penilaian
portofolio dan penilaian projek. (Kemendikbud. 2015 : 40 ).
Berdasarkan
beberapa sumber diatas bahwa didalam kurikulum suatu penilaian merupakan suatu
penekanan. Karena penilaian autentik merupakan salah satu hasil laporan peserta
didik secara objektif. Selain itu, penilaian autentik juga dapat memberikan
kesempatan seluas - luasnya kepada peserta didik untuk menerapkan pengetahuan,
keterampilan dan sikap yang sudah tertanam dalam dirinya. Adapula beberapa
perbedaan penilaian autentik dan penilaian tradisional dapat dilihat pada tabel
berikut:
Tabel
2.1 Perbedaan Penilaian Tradisional dan Penilaian Autentik
|
Penilaian
Tradisional
|
Penilaian
Autentik
|
|
Penilaian
tradisional meminta peserta didik memilih jawaban dari beberapa pilihan
(misalnya pilihan ganda) dengan tepat.
|
Penilaian
autentik meminta peserta didik untuk menunjukkan pemahaman dengan melakukan
tugas yang lebih kompleks dan biasanya mewakili aplikasi yang lebih bermakna.
|
|
Penilaian
tradisional menggunakan tes yang dibuat untuk menunjukkan penguasaan suatu
pengetahuan.
|
Penilaian
autentik meminta peserta didik untuk menunjukkan kemampuannya dengan
melakukan sesuatu seperti dalam dunia nyata.
|
|
Penilaian
tradisional meminta peserta didik untuk mengingat kembali pengetahuan yang
diperoleh.
|
Penilaian
autentik meminta peserta didik untuk menganalisis, mensintesis, dan
menerapkan apa yang telah mereka pelajari secara substansial.
|
|
Guru
membuat tes dan jawaban untuk mengukur kemampuan peserta didik.
|
Peserta
didik memilih dan mengonstruksi jawaban yang menunjukkan kemampuannya.
|
|
Penilaian
tradisional tidak dapat membuktikan kemampuan peserta didik secara langsung.
|
Penilaian
autentik membuktikan kemampuan peserta didik secara langsung melalui aplikasi
dan konstruksi pengetahuan.
|
Penilaian
yang baik tidak hanya dilakukan di akhir kegiatan belajar mengajar tetapi juga
dilakukan sepanjang proses pembelajaran. Oleh karena itu, penilaian tradisional
maupun penilaian autentik sama-sama diperlukan dalam pembelajaran. Penilaian
autentik digunakan pada penilaian dalam proses pembelajaran, sedangkan
penilaian tradisional lebih praktis digunakan dalam ujian akhir.
Penilaian
autentik memiliki persamaan dengan beberapa istilah penilaian, yaitu penilaian
berbasis kinerja, penilaian langsung, dan penilaian alternatif Penilaian
autentik memiliki persamaan dengan penilaian berbasis kinerja karena peserta
didik diminta untuk melakukan tugas-tugas yang bermakna. Penilaian autentik
disebut penilaian langsung karena penilaian autentik memberikan bukti lebih
langsung dan aplikasi bermakna dari pengetahuan dan keterampilan. Penilaian
autentik disebut juga dengan istilah penilaian alternatif karena penilaian
autentik merupakan suatu alternatif bagi penilaian tradisional. (Mueller,
2013).
Penilaian
autentik dan penilaian tradisional meskipun memiliki beberapa persamaan namun,
tingkat keobjektifan nya lebih mengacu pada jenis penilaian autentik. Dalam
penilaian autentik tentu peserta didik dituntut untuk lebih ditekankan pada
dunia nyata seperti peserta didik dituntut untuk menunjukan kemampuannya.
Penilaian autentik juga menuntut peserta didik dapat berperan aktif dalam
kegiatan pembelajaran seperti peserta didik mampu menganalisis, mensintesis dan
menerapkan apa yang telah dipelajari secara subtansial baik dari segi sikap,
keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki oleh peserta didik tersebut.
Menurut
(Kunandar, 2013 : 36) ada beberapa ciri dari penilaian autentik adalah:
1. Harus
mengukur semua aspek pembelajaran, yakni kinerja dan hasil atau produk.
Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik harus mengukur aspek
kinerja (performance) dan produk atau hasil yang dikerjakan oleh peserta
didik.
2.
Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung. Artinya, dalam
melakukan penilaian terhadap peserta didik, guru dituntut untuk melakukan
penilaian terhadap kemampuan atau kompetensi proses (kemampuan atau kompetensi
peserta didik dalam kegiatan pembelajaran) dan kemampuan atau kompetensi
peserta didik setelah melakukan kegiatan pembelajaran.
3.
Menggunakan berbagai cara dan sumber. Artinya, dalam melakukan penilaian
terhadap peserta didik harus menggunakan berbagai teknik penilaian (disesuaikan
dengan tuntutan kompetensi) dan menggunakakn berbagai sumber atau data yang
bisa digunakan sebagai informasi yang menggambarkan penguasaan kompetensi
peserta didik).
4. Tes
hanya salah satu alat pengumpul data penilaian. Artinya, dalam melakukan
penilaian peserta didik terhadap pencapaian kompetensi tertentu harus secara
komprehensif dan tidak hanya mengandalkan hasil tes semata.
5. Tugas
- tugas yang diberikan kepada peserta didik harus mencerminkan bagian-bagian
kehidupan peserta didik yang nyata setiap hari, mereka harus dapat menceritakan
pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan setiap hari.
6.
Penilaian harus menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian peserta didik,
bukan keluasannya (kuantitas).
Kelebihan
Penilaian Autentik
Ismet
Basuki dan Hariyanto (2014: 175) dalam Ade Cyntia mengungkapkan bahwa dalam
penilaian autentik selain memiliki beberapa keunggulan penilaian autentik juga
memiliki. Adapun keunggulan dalam penilaian autentik tersebut, yaitu:
1.
Berfokus pada keterampilan analisis dan keterpaduan pengetahuan.
2.
Meningkatkan kreativitas
3.
Merefleksikan keterampilan dan pengetahuan di dunia nyata.
4.
Mendorong kerja kolaboratif.
5.
Meningkatkan keterampilan lisan dan tertulis.
6.
Langsung menghubungkan kegiatan asesmen, kegiatan pengajaran, dan tujuan
pembelajaran.
7.
Menekankan kepada keterpaduan pembelajaran di sepanjang waktu
PERMASALAHAN :
Guru dapat menggunakan penilaian
autentik dalam kegiatan pembelajaran. Hal-hal apa saja yang harus diperhatikan
oleh guru dalam melakukan penilaian autentik?
hal hal yang harus diperhatikan guru pada penilaian autentik adalah :
BalasHapus1. Harus mengukur semua aspek pembelajaran, yakni kinerja dan hasil atau produk. Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik harus mengukur aspek kinerja (performance) dan produk atau hasil yang dikerjakan oleh peserta didik.
2. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung. Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik, guru dituntut untuk melakukan penilaian terhadap kemampuan atau kompetensi proses (kemampuan atau kompetensi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran) dan kemampuan atau kompetensi peserta didik setelah melakukan kegiatan pembelajaran.
3. Menggunakan berbagai cara dan sumber. Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik harus menggunakan berbagai teknik penilaian (disesuaikan dengan tuntutan kompetensi) dan menggunakakn berbagai sumber atau data yang bisa digunakan sebagai informasi yang menggambarkan penguasaan kompetensi peserta didik).
4. Tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian. Artinya, dalam melakukan penilaian peserta didik terhadap pencapaian kompetensi tertentu harus secara komprehensif dan tidak hanya mengandalkan hasil tes semata.
5. Tugas - tugas yang diberikan kepada peserta didik harus mencerminkan bagian-bagian kehidupan peserta didik yang nyata setiap hari, mereka harus dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan setiap hari.
6. Penilaian harus menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian peserta didik, bukan keluasannya (kuantitas).
Hal yang harus diperhatikan guru : Peserta didik diminta untuk merefleksikan dan mengevaluasi kinerja mereka sendiri dalam rangka meningkatkan pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan pembelajaran serta mendorong kemampuan belajar yang lebih tinggi. Pada asesmen autentik guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, kajian keilmuan, dan pengalaman yang diperoleh dari luar sekolah.
BalasHapusAsesmen autentik mencoba menggabungkan kegiatan guru mengajar, kegiatan siswa belajar, motivasi dan keterlibatan peserta didik, serta keterampilan belajar. Karena penilaian itu merupakan bagian dari proses pembelajaran, guru dan peserta didik berbagi pemahaman tentang kriteria kinerja. Dalam beberapa kasus, peserta didik bahkan berkontribusi untuk mendefinisikan harapan atas tugas-tugas yang harus mereka lakukan.
Asesmen autentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik, karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang subjek. Asesmen autentik harus mampu menggambarkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik, bagaimana mereka menerapkan pengetahuannya, dalam hal apa mereka sudah atau belum mampu menerapkan perolehan belajar, dan sebagainya. Atas dasar itu, guru dapat mengidentifikasi materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan untuk materi apa pula kegiatan remidial harus dilakukan.
Selain itu juga Penilaian yang harus dilakukan pendidik :
1) Belajar Tuntas (mastery learning) . Peserta didik tidak diperkenankan mengerjakan pekerjaan berikutnya, sebelum mampu menyelesaikan pekerjaan dengan prosedur yang benar dan hasil yang baik. (John B. Carrol, A Model of School Learning).
2) Otentik (telah diuraikan di atas);
3) Berkesinambungan yaitu memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil terus menerus dalam bentuk Ulangan Harian, Ulangan Tengah Semester, Ulangan Akhir Semester, dan Ulangan Kenaikan Kelas;
4) Berdasar Acuan Kriteria/Patokan
Mengacu ukuran pencapaian kompetensi/patokan yang ditetapkan.
Prestasi kemampuan peserta didik TIDAK DIBANDINGKAN dengan peserta kelompok, tetapi dengan kemampuan yang dimiliki sebelumnya dan patokan yang ditetapkan;
5) Menggunakan Berbagai Cara & Alat Penilaian
Mengembangkan dan menyediakan sistem pencatatan yang bervariasi.
Menggunakan penilaian yang bervariasi: Tertulis, Lisan, Produk, Portofolio, Unjuk Kerja, Proyek, Pengamatan, dan Penilaian Diri.
jadi dapat disimpulkan bahwa hal-hal yang harus diperhatikan oleh guru itu dalam penilaian autentik adalah penilaian yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung baik itu dari awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran. karena penilaian autentik terdiri dari 3 aspek yaitu aspek afektif, psikomotorik,dan kognitif.
BalasHapus