1. Penelitian Tindakan Kelas
Menurut Tim Pelatih Proyek PGSM
(M.Nur, 2001) dikemukakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu bentuk
kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk
meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan
tugas,memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu,
serta memperbaiki kondisi dimana praktik pembelajaran itu dilakukan.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
merupakan suatu model penelitian yang dikembangkan di ruang kelas dan dikenal
juga dengan nama Classroom Action Research, dimana idenya pertama kali
dikembangkan oleh Kurt dan Lewin pada tahun 1946.
Sedangkan menurut Stephen Kemmis
(1983), Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research adalah
suatu penelaahan atau inkuiri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh peserta
kegiatan pendidikan tertentu dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk
memperbaiki rasionalitas dan kebenaran dari (a) praktik-praktik pendidik yang
mereka lakukan sendiri (b) pemahaman mereka terhadap praktik-praktik tersebut
dan (c) situasi ditempat praktik itu dilaksanakan.
2. Jenis dan Model PTK
Sebagai paradigma sebuah penelitian
tersendiri, jenis PTK memiliki karakteristik yang relatif agak berbeda jika
dibandingkan dengan jenis penelitian yang lain, misalnya penelitian
naturalistik, eksperimen survei, analisis isi, dan sebagainya. Jika dikaitkan
dengan jenis penelitian yang lain PTK dapat dikategorikan sebagai jenis
penelitian kualitatif dan eksperimen. PTK dikatagorikan sebagai penelitian
kualitatif karena pada saat data dianalisis digunakan pendekatan kualitatif,
tanpa ada perhitungan statistik. Dikatakan sebagai penelitian eksperimen,
karena penelitian ini diawali dengan perencanaan, adanya perlakuan terhadap
subjek penelitian, dan adanya evaluasi terhadap hasil yang dicapai sesudah adanya
perlakuan.
Ditinjau dari karakteristiknya, PTK
setidaknya memiliki karakteristik antara lain: (1) didasarkan pada masalah yang
dihadapi guru dalam instruksional; (2) adanya kolaborasi dalam pelaksanaannya;
(3) penelitian sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi; (4)
bertujuan memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktek instruksional; (5)
dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus.
Menurut Richart Winter ada enam karekteristik PTK,
yaitu (1) kritik reflektif, (2) kritik dialektis, (3) kolaboratif, (4) resiko,
(5) susunan jamak, dan (6) internalisasi teori dan praktek (Winter, 1996).
Untuk lebih jelasnya, berikut ini dikemukakan secara singkat karakteristik PTK
tersebut.
- Kritik Refeksi; salah satu langkah di dalam penelitian kualitatif pada umumnya, dan khususnya PTK ialah adanya upaya refleksi terhadap hasil observasi mengenai latar dan kegiatan suatu aksi. Hanya saja, di dalam PTK yang dimaksud dengan refleksi ialah suatu upaya evaluasi atau penilaian, dan refleksi ini perlu adanya upaya kritik sehingga dimungkinkan pada taraf evaluasi terhadap perubahan-perubahan.
- Kritik Dialektis; dengan adanyan kritik dialektif diharapkan penelitian bersedia melakukan kritik terhadap fenomena yang ditelitinya. Selanjutnya peneliti akan bersedia melakukan pemeriksaan terhadap: (a) konteks hubungan secara menyeluruh yang merupakan satu unit walaupun dapat dipisahkan secara jelas, dan, (b) Struktur kontradiksi internal, -maksudnya di balik unit yang jelas, yang memungkinkan adanya kecenderungan mengalami perubahan meskipun sesuatu yang berada di balik unit tersebut bersifat stabil.
- Kolaboratif; di dalam PTK diperlukan hadirnya suatu kerja sama dengan pihak-pihak lain seperti atasan, sejawat atau kolega, mahasiswa, dan sebagainya. Kesemuanya itu diharapkan dapat dijadikan sumber data atau data sumber. Mengapa demikian? Oleh karena pada hakikatnya kedudukan peneliti dalam PTK merupakan bagian dari situasi dan kondisi dari suatu latar yang ditelitinya. Peneliti tidak hanya sebagai pengamat, tetapi dia juga terlibat langsung dalam suatu proses situasi dan kondisi. Bentuk kerja sama atau kolaborasi di antara para anggota situasi dan kondisi itulah yang menyebabkan suatu proses dapat berlangsung.Kolaborasi dalam kesempatan ini ialah berupa sudut pandang yang disampaikan oleh setiap kolaborator. Selanjutnya, sudut pandang ini dianggap sebagai andil yang sangat penting dalam upaya pemahaman terhadap berbagai permasalahan yang muncul. Untuk itu, peneliti akan bersikap bahwa tidak ada sudut pandang dari seseorang yang dapat digunakan untuk memahami sesuatu masalah secara tuntas dan mampu dibandingkan dengan sudut pandang yang berasal; dari berbagai pihak. Namun demikian memperoleh berbagai pandangan dari pada kolaborator, peneliti tetap sebagai figur yang memiliki ,kewenangan dan tanggung jawab untuk menentukan apakah sudut pandang dari kolaborator dipergunakan atau tidak. Oleh karenanya, sdapat dikatakan bahwa fungsi kolaborator hanyalah sebagai pembantu di dalam PTK ini, bukan sebagai yang begitu menentukan terhadap pelaksaanan dan berhasil tidaknya penelitian.
- Resiko; dengan adanya ciri resiko diharapkan dan dituntut agar peneliti berani mengambil resiko, terutama pada waktu proses penelitian berlangsung. Resiko yang mungkin ada diantaranya (a) melesetnya hipotesis dan (b) adanya tuntutan untuk melakukan suatu transformasi. Selanjutnya, melalui keterlibatan dalam proses penelitian, aksi peneliti kemungkinan akan mengalami perubahan pandangan karena ia menyaksikan sendiri adanya diskusi atau pertentangan dari para kalaborator dan selanjutnya menyebabkan pandangannya berubah.
- Susunan Jamak; pada umumnya penelitian kuantitatif atau tradisional berstruktur tunggal karena ditentukan oleh suara tunggal, penelitinya. Akan tetapi, PTK memiliki struktur jamak karena jelas penelitian ini bersifat dialektis, reflektif, partisipasi atau kolaboratif. Susunan jamak ini berkaitan dengan pandangan bahwa fenomena yang diteliti harus mencakup semua komponen pokok supaya bersifat komprehensif. Suatu contoh, seandainya yang diteliti adalah situasi dan kondisi proses belajar-mengajar, situasinya harus meliputi paling tidak guru, siswa, tujuan pendidikan, tujuan pembelajaran, interaksi belajar-mengajar, lulusan atau hasil yang dicapai, dan sebagainya.
- Internalisasi Teori dan Praktik; Menurut pandangan para ahli PTK bahwa antara teori dan praktik bukan merupakan dua dunia yang berlainan. Akan tetapi, keduanya merupakan dua tahap yang berbeda, yang saling bergantung, dan keduanya berfungsi untuk mendukung tranformasi. Pendapat ini berbeda dengan pandangan para ahli penelitian konvesional yang beranggapan bahwa teori dan praktik merupakan dua hal yang terpisah. Keberadaan teori diperuntukkan praktik, begitu pula sebaliknya sehingga keduanya dapat digunakan dan dikembangkan bersama.
Berdasarkan uraian di atas, jelaslah
bahwa bentuk PTK benar-benar berbeda dengan bentuk penelitian yang lain, baik
itu penelitian yang menggunakan paradigma kualitatif maupun paradigma
kualitatif. Oleh karenanya, keberadaan bentuk PTK tidak perlu lagi diragukan,
terutama sebagai upaya memperkaya khasanah kegiatan penelitian yang dapat
dipertanggungjawabkan taraf keilmiahannya.
3. Jenis Penelitian Tindakan Kelas
Ada empat jenis PTK, yaitu: (1)
PTK diasnogtik, (2) PTK partisipan, (3) PTK empiris, dan (4) PTK eksperimental
(Chein, 1990). Untuk lebih jelas, berikut dikemukakan secara singkat mengenai
keempat jenis PTK tersebut.
- PTK Diagnostik; yang dimaksud dengan PTK diagnostik ialah penelitian yang dirancang dengan menuntun peneliti ke arah suatu tindakan. Dalam hal ini peneliti mendiagnosia dan memasuki situasi yang terdapat di dalam latar penelitian. Sebagai contohnya ialah apabila peneliti berupaya menangani perselisihan, pertengkaran, konflik yang dilakukan antar siswa yang terdapat di suatu sekolah atau kelas.
- PTK Partisipan; suatu penelitian dikatakan sebagai PTK partisipan ialah apabila orang yang akan melaksanakan penelian harus terlibat langsung dalam proses penelitian sejak awal sampai dengan hasil penelitian berupa laporan. Dengan demikian, sejak penencanan panelitian peneliti senantiasa terlibat, selanjutnya peneliti memantau, mencacat, dan mengumpulkan data, lalu menganalisa data serta berakhir dengan melaporkan hasil panelitiannya. PTK partisipasi dapat juga dilakukan di sekolah seperti halnya contoh pada butir a di atas. Hanya saja, di sini peneliti dituntut keterlibatannya secara langsung dan terus-menerus sejak awal sampai berakhir penelitian.
- PTK Empiris; yang dimaksud dengan PTK empiris ialah apabila peneliti berupaya melaksanakan sesuatu tindakan atau aksi dan membukakan apa yang dilakukan dan apa yang terjadi selama aksi berlangsung. Pada prinsipnya proses penelitinya berkenan dengan penyimpanan catatan dan pengumpulan pengalaman penelti dalam pekerjaan sehari-hari.
- PTK Eksperimental; yang dikategorikan sebagai PTK eksperimental ialah apabila PTK diselenggarakan dengan berupaya menerapkan berbagai teknik atau strategi secara efektif dan efisien di dalam suatu kegiatam belajar-mengajar. Di dalam kaitanya dengan kegitan belajar-mengajar, dimungkinkan terdapat lebih dari satu strategi atau teknik yang ditetapkan untuk mencapai suatu tujuan instruksional. Dengan diterapkannya PTK ini diharapkan peneliti dapat menentukan cara mana yang paling efektif dalam rangka untuk mencapai tujuan pengajaran.
4. Model-model Penelitian Tindakan
Kelas
Ada beberapa model PTK yang
sampai saat ini sering digunakan di dalam dunia pendidikan, di antaranya: (1)
Model Kurt Lewin, (2) Model Kemmis dan Mc Taggart, (3) Model John Elliot, dan
(4) Model Dave Ebbutt.
- Model Kurt Lewin; di depan sudah disebutnya bahwa PTK pertama kali diperkenalkan oleh Kurt Lewin pada tahun 1946. konsep inti PTK yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin ialah bahwa dalam satu siklus terdiri dari empat langkah, yaitu: (1) Perencanaan ( planning), (2) aksi atau tindakan (acting), (3) Observasi (observing), dan (4) refleksi (reflecting) (Lewin, 1990). Sementara itu, empat langkah dalam satu siklus yang dikemukakan oleh Kurt Lewin tersebut oleh Ernest T. Stringer dielaborasi lagi menjadi: (1) Perencanaan (planning), (2) Pelaksanaan (implementing), dan (3) Penilaian (evaluating) (Ernest, 1996).
- Model John Elliot; apabila dibandingkan dua model yang sudah diutarakan di atas, yaitu Model Kurt Lewin dan Kemmis-McTaggart, PTK Model John Elliot ini tampak lebih detail dan rinci. Dikatakan demikian, oleh karena di dalam setiap siklus dimungkinkan terdiri dari beberapa aksi yaitu antara 3-5 aksi (tindakan). Sementara itu, setiap aksi kemungkinan terdiri dari beberapa langkah, yang terealisasi dalam bentuk kegiatan belajar-mengajar. Maksud disusunnya secara terinci pada PTK Model John Elliot ini, supaya terdapat kelancaran yang lebih tinggi antara taraf-taraf di dalam pelaksanan aksi atau proses belajar-mengajar. Selanjutnya, dijelaskan pula olehnya bahwa terincinya setiap aksi atau tindakan sehingga menjadi beberapa langkah oleh karena suatu pelajaran terdiri dari beberapa subpokok bahasan atau materi pelajaran. Di dalam kenyataan praktik di lapangan setiap pokok bahasan biasanya tidak akan dapat diselesaikan dalam satu langkah, tetapi akan diselesaikan dalam beberapa rupa itulah yang menyebabkan John Elliot menyusun model PTK yang berbeda secara skematis dengan kedua model sebelumnya, yaitu seperti dikemukakan berikut ini.
5. SIKLUS PELAKSANAAN PTK
Gambar 5: Riset Aksi Model John
Elliot
6. Pelaksanaan Penelitian Tindakan
Kelas
Banyak model PTK yang dapat diadopsi
dan diimplementasikan di dunia pendidikan. Namun secara singkat, pada dasarnya PTK
terdiri dari 4 (empat) tahapan dasar yang saling terkait dan
berkesinambungan: (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan (acting), (3)
pengamatan (observing), dan (4) refleksi (reflecting).
Namun sebelumnya, tahapan ini diawali oleh suatu Tahapan
Pra PTK, yang meliputi:
- Identifikasi masalah
- Analisis masalah
- Rumusan masalah
- Rumusan hipotesis tindakan
Tahapan Pra PTK ini sangat esensial
untuk dilaksanakan sebelum suatu rencana tindakan disusun. Tanpa tahapan ini suatu
proses PTK akan kehilangan arah dan arti sebagai suatu penelitian ilmiah.
Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan guna menuntut pelaksanaan tahapan PTK
adalah sebagai berikut ini.
- Apa yang memprihatinkan dalam proses pembelajaran?
- Mengapa hal itu terjadi dan apa sebabnya?
- Apa yang dapat dilakukan dan bagaimana caranya mengatasi keprihatinan tersebut?
- Bukti-bukti apa saja yang dapat dikumpulkan untuk membantu mencari fakta apa yang terjadi?
- Bagaimana cara mengumpulkan bukti-bukti tersebut?
Jadi, tahapan pra PTK ini
sesungguhnya suatu reflektif dari guru terhadap masalah yang ada dikelasnya.
Masalah ini tentunya bukan bersifat individual pada salah seorang murid saja,
namun lebih merupakan masalah umum yang bersifat klasikal, misalnya kurangnya
motivasi belajar di kelas, rendahnya kualitas daya serap klasikal, dan
lain-lain.
Berangkat dari hasil pelaksanaan tahapan Pra PTK
inilah suatu rencana tindakan dibuat.
- Perencanaan Tindakan; berdasarkan pada identifikasi masalah yang dilakukan pada tahap pra PTK, rencana tindakan disusun untuk menguji secara empiris hipotesis tindakan yang ditentukan. Rencana tindakan ini mencakup semua langkah tindakan secara rinci. Segala keperluan pelaksanaan PTK, mulai dari materi/bahan ajar, rencana pengajaran yang mencakup metode/ teknik mengajar, serta teknik atau instrumen observasi/ evaluasi, dipersiapkan dengan matang pada tahap perencanaan ini. Dalam tahap ini perlu juga diperhitungkan segala kendala yang mungkin timbul pada saat tahap implementasi berlangsung. Dengan melakukan antisipasi lebih dari diharapkan pelaksanaan PTK dapat berlangsung dengan baik sesuai dengan hipotesis yang telah ditentukan.
- Pelaksanaan Tindakan; tahap ini merupakan implementasi ( pelaksanaan) dari semua rencana yang telah dibuat. Tahap ini, yang berlangsung di dalam kelas, adalah realisasi dari segala teori pendidikan dan teknik mengajar yang telah disiapkan sebelumnya. Langkah-langkah yang dilakukan guru tentu saja mengacu pada kurikulum yang berlaku, dan hasilnya diharapkan berupa peningkatan efektifitas keterlibatan kolaborator sekedar untuk membantu si peneliti untuk dapat lebih mempertajam refleksi dan evaluasi yang dia lakukan terhadap apa yang terjadi dikelasnya sendiri. Dalam proses refleksi ini segala pengalaman, pengetahuan, dan teori pembelajaran yang dikuasai dan relevan.
- Pengamatan Tindakan; kegiatan observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Data yang dikumpulkan pada tahap ini berisi tentang pelaksanaan tindakan dan rencana yang sudah dibuat, serta dampaknya terhadap proses dan hasil intruksional yang dikumpulkan dengan alat bantu instrumen pengamatan yang dikembangkan oleh peneliti. Pada tahap ini perlu mempertimbangkan penggunaan beberapa jenis instrumen ukur penelitian guna kepentingan triangulasi data. Dalam melaksanakan observasi dan evaluasi, guru tidak harus bekerja sendiri. Dalam tahap observasi ini guru bisa dibantu oleh pengamat dari luar (sejawat atau pakar). Dengan kehadiran orang lain dalam penelitian ini, PTK yang dilaksanakan menjadi bersifat kolaboratif. Hanya saja pengamat luar tidak boleh terlibat terlalu dalam dan mengintervensi terhadap pengambilan keputusan tindakan yang dilakukan oleh peneliti. Terdapat empat metode observasi, yaitu : observasi terbuka; observasi terfokus; observasi terstruktur dan dan observasi sistematis. Beberapa prinsip yang harus dipenuhi dalam observasi, diantaranya: (a) ada perencanaan antara dosen/guru dengan pengamat; (b) fokus observasi harus ditetapkan bersama; (c) dosen/guru dan pengamat membangun kriteria bersama; (d) pengamat memiliki keterampilan mengamati; dan (e) balikan hasil pengamatan diberikan dengan segera. Adapun keterampilan yang harus dimiliki pengamat diantaranya: (a) menghindari kecenderungan untuk membuat penafsiran; (b) adanya keterlibatan keterampilan antar pribadi; (c) merencanakan skedul aktifitas kelas; (d) umpan balik tidak lebih dari 24 jam; (d) catatan harus teliti dan sistemaris
- Refleksi Terhadap Tindakan; tahapan ini merupakan tahapan untuk memproses data yang didapat saat dilakukan pengamatan. Data yang didapat kemudian ditafsirkan dan dicari eksplanasinya, dianalisis, dan disintesis. Dalam proses pengkajian data ini dimungkinkan untuk melibatkan orang luar sebagai kolaborator, seperti halnya pada saat observasi. Keterlebatan kolaborator sekedar untuk membantu peneliti untuk dapat lebih tajam melakukan refleksi dan evaluasi. Dalam proses refleksi ini segala pengalaman, pengetahuan, dan teori instruksional yang dikuasai dan relevan dengan tindakan kelas yang dilaksanakan sebelumnya, menjadi bahan pertimbangan dan perbandingan sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan yang mantap dan sahih.Proses refleksi ini memegang peran yang sangat penting dalam menentukan suatu keberhasilan PTK. Dengan suatu refleksi yang tajam dan terpecaya akan didapat suatu masukan yang sangat berharga dan akurat bagi penentuan langkah tindakan selanjutnya. Refleksi yang tidak tajam akan memberikan umpan balik yang misleading dan bias, yang pada akhirnya menyebabkan kegagalan suatu PTK. Tentu saja kadar ketajaman proses refleksi ini ditentukan oleh kejataman dan keragaman instrumen observasi yang dipakai sebagai upaya triangulasi data. Observasi yang hanya mengunakan satu instrumen saja. Akan menghasilkan data yang miskin.Adapun untuk memudahkan dalam refleksi bisa juga dimunculkan kelebihan dan kekurangan setiap tindakan dan ini dijadikan dasar perencanaan siiklus selanjutnya. Pelaksanaan refleksi diusahakan tidak boleh lebih dari 24 jam artinya begitu selesai observasi langsung diadakan refleksi bersama kolaborator.
CONTOH PENELITIAN TINDAKAN KELAS PADA PEMBELAJARAN
KIMIA
- METODE PENELITIAN
a. Setting Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di MAN 1
Samarinda Kalimantan Timur dengan melibatkan dua pengamat ( guru kimia dan
kepala sekolah) di sekolah tersebut.
b. Indikator Keberhasilan
Keberhasilan
dari penelitian tindakan kelas ini dapat dilihat dari pencapaian kompetensi
yang harus dikuasai siswa, yaitu :
1. Kemampuan menghitung konsenrasi suatu larutan
(kemolalan dan fraksi mol)
1. Kemampuan menjelaskan pengertian sifat koligatif
larutan non elektrolit (hukum Raoult) dan larutan elektrolit
2. Kemampuan menggambarkan susunan sel Volta atau sel
Galvani dan menjelaskan fungsi tiap bagiannya
3. Kemampuan untuk menjelaskan bagaimana energi listrik
dapat dihasilkan dari reaksi redoks dalam sel volta.
c. Rencana Penelitian
Penelitian
tindakan kelas ini dilakukan dalam 2 siklus dimana masing-masing siklus tingkat
keberhasilannya disesuaikan dengan kompetensi yang diharapkan dapat dikuasai
siswa setelah proses pembelajaran.
Pelaksanaan
penelitian tindakan kelas ini meliputi :
1. Penjajakan
Dilakukan
melalui serangkaian tes yang dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kemampuan
awal yang dimiliki oleh siswa dan mengeksplorasi masalah-masalah yang dihadapi
siswa yang dihubungkan dengan kompetensi yang ingin dicapai.
1. Skenario Tindakan
Dalam
penelitian ini, skenario tindakan berlangsung dalam 2 siklus yaitu :
·
Siklus
Pertama
Tahap-tahap
tindakan yang dilakukan pada siklus pertama ini adalah :
(1)
Refleksi Awal
Peneliti
bersama-sama dengan pengamat (guru mitra) menggali permasalahan dan kesulitan
yang dihadapi guru dalam meningkatkan minat belajar siswa terhadap pembelajaran
kimia (Sifat-sifat Koligatif Larutan dan Elektrokimia). Dan selanjutnya
dilakukan diskusi diantara para peneliti tentang hasil kerja siswa awal untuk
menentukan rancangan tindakan-tindakan terhadap permasalahan tersebut.
(2)
Penetapan dan Rancangan Tindakan
Rancangan
tindakan yang akan dilaksanakan peneliti adalah sebagai berikut :
Mensetting
Kelas,
Memandu PBM
Penyampaian
Materi
Dengan
Media Komputasi
Mendeskripsikan
dan
Menjelaskan
tampilan slide
Diskusi
(3)
Pelaksanaan Tindakan
Siklus
pertama dilaksanakan selama 3 jam pelajaran atau 3 x 45 menit, dengan
rincian sebagai berikut :
a.
Jam pertama (45 menit), guru mensetting kelas.
b.
Jam kedua (45 menit), salah satu peneliti (guru mitra) menyampaikan materi
sifat-sifat koligatif larutan dengan media komputasi.
c.
Jam ketiga (45 menit), dengan bimbingan guru siswa diajak berdiskusi untuk
mengeksplorasi pemikirannya tentang pengamatan terhadap materi yang ditampilkan
pada LCD, sehingga terjadi transfer ilmu secara tidak langsung dari guru kepada
siswa.
(4)
Monitoring
Tindakan
monitoring ini dilakukan selama proses pembelajaran di kelas berlangsung,
dengan menggunakan teknik pengamatan dan pencatatan yang meliputi kejadian,
perubahan tingkah laku laku, cara, dan teknik pendokumentasian terhadap situasi
dan kondisi yang terjadi di dalam kelas.
(5)
Analisis Data dan refleksi
Data hasil
monitoring yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara kolaboratif antara
peneliti dengan guru, yang bertujuan untuk mengetahui apakah skenario yang kita
siapkan dan lakukan telah mencapai tujuan seperti pada kompetensi-kompetensi
yang ada. Sehingga berdasarkan analisis tersebut, maka peneliti dapat
melakukan refleksi dimana kelemahan ataupun kelebihan pada siklus pertama dapat
diidentifikasi dan dapat diminimalisasi pada siklus selanjutnya.
(6)
Data dan Cara Pengumpulan
|
Data
|
Cara
Pengumpulan
|
Sumber
|
|
Hasil
Pengamatan Partisipatif
|
Lembar
Pengamatan /Observasi
|
Siswa
|
|
Observasi
aktivitas di kelas
|
Lembar
Observasi
|
Siswa
|
|
Pengukuran
hasil belajar
|
Lembar
Hasil tes
|
Siswa
|
·
Siklus
Kedua
Siklus
kedua ini dilaksanakan dengan berpegang pada hasil analisis dari kegiatan di
siklus pertama, yaitu dari bagaimana hasil dan kekurangan langkah dari siklus
pertama di atas, akibat serta perubahan apa saja yang harus dilakukan pada
siklus kedua ini. Dengan demikian, tahap-tahap tindakan pada siklus kedua
juga sama dengan tahap pada siklus pertama, hanya saja materi yang disampaikan
berbeda, yaitu tentang elektrokimia.
Pada siklus
kedua ini, siswa akan diajak untuk menjelaskan dan mendeskripsikan tampilan
slide yang disajikan berdasarkan pengamatan dan pemikirannya (eksplorasi
pengetahuan siswa). Sedangkan pada akhir proses pembelajaran, siswa juga
diharuskan untuk mengerjakan tes seperti pada siklus ketiga.
Permasalahan :
Menurut teman-teman, mengapa Penelitian Tindakan Kelas itu penting untuk meningkatkan profesional seorang guru?
penelitian tindakan kelas penting untuk dilakukan karena dalam ptk terdapat tahapan - tahapan yang memiliki arti penting atau berharga. yaitu pada tahap terakhir dilakukan refleksi. dimana tahapan ini sangat membantu guru untuk mengevaluasi kekurangan - kekurangan yang perlu diperbaiki untuk hasil yang lebih memuaskan.
BalasHapusPTK ialah suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis reflektif terhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai peneliti, sejak disusunnya suatu perencanaan sampai penilaian terhadap tindakan nyata di dalam kelas yang berupa kegiatan belajar-mengajar, untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan. Sementara itu, dilaksanakannya PTK di antaranya untuk meningkatkan kualitas pendidikan atau pangajaran yang diselenggarakan oleh guru/pengajar-peneliti itu sendiri, yang dampaknya diharapkan tidak ada lagi permasalahan yang mengganjal di kelas. jadi PTK itu sangat penting.
BalasHapusProfesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian. Dengan demikian, guru yang profesional adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Kompetensi di sini meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan profesional, baik yang bersifat pribadi, sosial maupun akademis. Suatu pekerjaan profesional menurut Moh. Ali (Kunandar, 2007:47) memerlukan persyaratan khusus, yakni menuntut adanya keterampilan berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam, menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya;, menuntut adanya tingkat pendidikan yang memadai, adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakannya dan memungkinkan sejalan dengan dinamika kehidupan. Guru yang profesional akan tercermin dalam pelaksanaan pengabdian tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun metode. Selain itu juga ditunjukkan melalui tanggung jawabnya dalam melaksanakan seluruh pengabdiannya. Guru yang profesional hendaknya mampu memikul dan melaksanakan tanggung jawab sebagai guru kepada peserta didik, orang tua, masyarakat, bangsa, negara dan agamanya. Guru profesional mempunyai tanggung jawab pribadi, sosial, intelektual, moral dan spiritual. Tanggung jawab pribadi yang mandiri yang mampu memahami dirinya, mengelola dirinya, mengendalikan dirinya, dan menghargai serta mengembangkan dirinya. Tanggung jawab sosial diwujudkan melalui kompetensi guru dari lingkungan sosial serta memiliki kemampuan interaktif yang efektif. Tanggung jawab intelektual diwujudkan melalui penguasaan berbagai perangkat pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menunjang tugasnya. Tanggung jawab spiritual dan moral diwujudkan melalui penampilan guru sebagai makhluk beragama yang perilakunya senantiasa tidak menyimpang dari norma agama dan moral.
BalasHapuspenelitian tindakan kelas pentinglah dilakukan oleh guru karena merupakan bahan evaluasi guru terhadap pencapaian pembelajran dan proses pembelajaran. sehingga mengetahui kekurangan mana yang harus diperbaiki
BalasHapuskarena dari PTK inilah guru mengetahui kekurangannya dalam membelajarkan materi kimia sehigga dapat dievaluasi dan diperbaiki. dengan adanya beberapakali siklus PTK maka akan terus membuat guru belajar untuk menghilangkan kesalahannya dalam mengajar sehingga gurupun menjadi lebih profesional
BalasHapusKarena PTK dimaksudkan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas. Penelitian ini merupakan salah satu upaya guru untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu pembelajaran. Dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat. Dengan demikian PTK tidaklah sekedar penyelesaian masalah, melainkan terdapat pula misi perubahan dan peningkatan.
BalasHapusBerarti dengan begitu PTK ini sangat penting bagi guru dan sekolah. Nah bagaimana jika ada sekolah yang tidak pernah melaksanakan PTK?
HapusPTK sangat penting dilakukan, karena disitu gguru dapat mengatasi dimana kekurangan dari guru tersebut
BalasHapus