Senin, 08 Mei 2017

Teknik Membelajarkan Materi Kimia Pada Fase Pendahuluan dan Penutup





Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah ialah dengan cara melalui perbaikan proses pengajaran. Dimana didalamnya terdapat kegiatan belajar dan mengajar. Berbagai konsep dan wawasan baru tentang proses belajar mengajar di sekolah telah muncul dan berkembang seiring pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan tujuan untuk memenuhi tuntutan zaman yang menuntut agar tercipta anak didik yang mampu membawa zaman ini lebih baik lagi, lebih maju dan berkembang dari pada zaman yang telah lalu dan zaman sekarang dan mampu mengembangkannya.
Dalam kaitannya dengan tuntutan pendidikan yang harus mampu melahirkan dan menyiapkan anak didik yang berkualitas, Guru adalah personel yang menduduki posisi penting dan strategis dalam rangka pengembangan sumberdaya manusia dan yang selalu dituntut untuk terus mengikuti perkembangan konsep-konsep baru dalam dunia kepengajaran tersebut. Demikian pula para supervisor pendidikan, pengawas dan pengelola lembaga pendidikan juga seyogyanya juga selalu mengikuti perkembangan itu.
Tentunya untuk menjadikan pendidikan tersebut bermutu atau untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan semua proses yang ada didalamnya, termasuk pengajaran yang dilakukan guru/ pendidik atau team pendidik dalam lembaga itu harus benar-benar membuat suatu langkah atau tahapan-tahapan dalam pengajaran yang disesuaikan oleh kondisi dan psikologi anak didik, agar pengajaran yang dilakukan bisa efisien dan efektif.
A.     Tahap Pendahuluan.
Dalam tahap pendahuluan ini berisi tahapan perencanaan pembelajaran kedepan yang nantinya akan menjadi pedoman untuk mencapai hasil apa yang diharapkan dalam akhir pembelajaran dan tentunya akan dijadikan pedoman dalam proses pengajaran. Kegiatan pembelajaran yang baik senantiasa berawal dari rencana yang matang. Perencanaan yang matang akan menunjukkan hasil yang optimal dalam pembelajaran.
Perencanaan merupakan proses penyusunan sesuatu yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Pelaksanaan perencanaan tersebut dapat disusun berdasarkan kebutuhan dalam jangka tertentu sesuai dengan keinginan pembuat perencanaan. Namun yang lebih utama adalah perencanaan yang dibuat harus dapat dilaksanakan dengan mudah dan tepat sasaran. Begitu pula dengan perencanaan pembelajaran, yang direncanakan harus sesuai dengan target pendidikan. Guru sebagai subjek dalam membuat perencanaan pembelajaran harus dapat menyusun berbagai program pengajaran sesuai pendekatan dan metode dan teori yang akan digunakan. Agar pembelajaran yang ditempuh bisa efektif dan efisien.
Dalam perencanaan ini ada beberapa tahapan yang menjadi strength point seperti yang dipaparkan oleh Kemp lewat desain pengembangan pembelajaran PAI dalam model J.E.Kemp yang berpijak pada empat unsur dasar perencanaan pembelajaran yang merupakan wujud jawaban atas pertanyaan (1) untuk siapa program itu dirancang? Peserta didik, (2) kemampuan apa yang ingin anda pelajari? Tujuan, (3) bagaimana isi pelajaran/ keterampilan yang dapat dipelajari? Metode, (4) bagaimana anda menentukan tingkat penguasaan terhadap pelajaran yang sudah dicapai? Evaluasi.[1][8], keempat point ini akan dijelaskan dibawah ini:
1.      Merumuskan Tujuan/ Kompetensi Pengajaran
Yaitu perumusan tingkah laku/ kemampuan-kemampuan yang dirumuskan secara khusus (spesifik), operasional dan berupa jenis-jenis kemampuan/tingkah laku yang diharapkan dapat dimiliki oleh anak didik setelah mereka mengikuti pelajaran-pelajaran yang kita berikan kepada mereka. Namun sampai sekarang ini, teori pengukuran kecakapan/ kemampuan masih berbasis pada teori taksonomi bloom yang diperkenalkan oleh Benjamin S. Bloom. Salah satu contoh dari tujuan pembelajaran seperti dibawah ini:[2][9]
Tujuan Pengajaran
Proses Mengajar
Siswa dapat menyebutkan dengan tepat asmaul khusna
Mengajarkan kepada sisa tentang asmaul khusna

2.      Mengembangkan/ Mempersiapkan Alat-Alat Evaluasi
Langkah ini memiliki fungsi yang nantinya digunakan untuk menilai sejauh mana siswa menguasai materi yang telah diberikan dan yang telah dirumuskan dalam tujuan pengajaran tersebut. Adanya persiapan alat evaluasi ini ditempuh dalam perencanaan pembelajaran ini karena didasarkan pada prinsip pengajaran yang berorientasi pada tujuan hasil (output oriented).[3][10] Jenis tes ini dapat meliputi tes lisan, tes tulis dan tes perbuatan/ praktek dengan menggunakan beberapa bentuk pertanyaan, diantaranya (1)Bentuk uraian,(2)Bentuk pilihan jawab terbatas,(3)Bentuk melengkapi,(4)Bentuk pertanyaan-pertanyaan yang menuntut jawaban singkat. Dalam suatu pelajaran bisa dimungkinkan menggunakan beberapa atau lebih dari satu bentuk dan jenis pertanyaan.

3.      Merancang dan Menetapkan Kegiatan-Kegiatan Mengajar
Dalam langkah ketiga ini dapat berupa kegiatan-kegiatan yang akan ditempuh oleh guru dan siswa selama proses pengajaran nantinya yang juga harus dirumuskan, agar siswa dapat memiliki sikap dan kemampuan yang sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan. Setiap tujuan bisa ditempuh dengan satu atau beberapa kegiatan belajar, disesuaikan dengan kompleks tidaknya kemampuan yang terkandung dalam tujuan pembelajaran. Agar tujuan tersebut benar-benar dapat tercapai.

4.      Merencanakan Program Kegiatan
Hal-hal pokok yang harus ditetapkan dalam perencanaan program kegiatan:
a.    Merumuskan materi pelajaran beserta komponennya
·         Menyusun materi pelajaran tiap mata pelajaran. Dalam menyusun materi pembelajaran hendaknya merupakan gabungan antara jenis yang berbentuk pengetahuan (fakta dan informasi yang terperinci), keterampilan (langkah-langkah, prosedur, keadaan dan syarat-syarat tertentu), dan sikap (berisi pendapat, ide, atau tanggapan) (kemp,1997).[4][11] Bila perlu dalam menyusun materi pelajaran disertai dengan uraian singkat dan contoh-contohnya agar memudahkan dalam menyampaikan materi tersebut kepada siswa dan lebih terencana dan juga agar siswa lebih bisa memahami dengan cepat.
·         Menyusun Silabus. Silabus diartikan sebagai garis besar, ringkasan, ikhtisar, atau pokok-pokok isi atau materi pelajaran. Silabus merupakan penjabaran dari standart kompetensi, kompetensi dasar yang ingin dicapai, dan pokok-pokok serta uraian materi yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar.
·         Menyusun Rencana pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Rencana pembelajaran bersifat khusus dan kondisional, dimana setiap sekolah tidak sama kondisi siswa dan sarana prasarana sumber belajarnya. Karena itu, penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran hendaknya didasarkan pada silabus terkait dengan indikator, kegiatan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, sumber/bahan/alat dan juga langkah-langkah pembelajaran dan kondisi pembelajaran agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung sesuai harapan.
·         Penilaian Pembelajaran. Penilaian merupakan tindakan atau proses untuk menentukan nilai terhadap sesuatu. Penilaian merupakan proses yang harus dilakukan oleh guru dalam rangkaian kegiatan pembelajaran. Prinsip penilaian antara lain : Valid, mendidik, berorientasi pada kompetensi, adil dan objektif, terbuka, berkesinambungan, menyeluruh dan bermakna.
Yang harus diperhatikan dalam hal memperkirakan besar kecilnya materi adalah penerapan teori Gestalt, yaitu bahwa bagian-bagian kecil merupakan satu kesatuan yang bermakna apabila dipelajari secara keseluruhan, dan keseluruhan tidaklah berarti tanpa bagian-bagian kecil tadi.[5][12]

b.    Menyiapkan metode yang akan digunakan.
Metode pembelajaran adalah cara guru mengorganisasikan meteri pelajaran dan peserta didik agar terjadi proses secara efektif dan efisien. Banyak sekali macam-macam dari metode-metode pembelajaran yang digunakan dalam mengajar, diantaranya (1)Metode ceramah/kuliah, (2)Metode diskusi, (3)Metode demonstrasi, (4)Metode eksperimen, (5)Metode pemberian tugas, dll.

c.     Menyusun jadwal.
Dalam menyusun jadwal kegiatan/ program pembelajaran, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan harus dibuat, yaitu:
1.    Analisis hari efektif, hari libur, analisis program dan materi pembelajaran. Untuk mengawali kegiatan penyusunan program pembelajaran, guru perlu membuat analisis hari efektif selama satu semester. Dari hasil analisis hari efektif akan diketahui jumlah hari efektif dan hari libur tiap pekan atau tiap bulan sehingga memudahkan penyususnan program pembelajaran selama satu semester. Dasar pembuatan analisis hari efektif adalah kalender pendidikan dan kalender umum. Berdasarkan hasil analisis hari efektif dan materi pembelajaran tersebut, maka dapat disusun program pembelajaran seperti pembuatan program tahunan, semester/ cawu, pemilihan metode yang sesuai dengan kondisi yang ada, penyediaan alokasi waktu, penyediaan sarana dll.[6][13]
2.    Membuat program tahunan, program semester dan program tagihan . Program Tahunan adalah Penyusunan program pembelajaran selama satu tahun pelajaran dimaksudkan agar keutuhan dan kesinambungan program pembelajaran atau topik pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam dua semester tidak mengalami kendala. Program Semester adalah Penyusunan program per-semester yang didasarkan pada hasil anlisis hari efektif dan program pembelajaran tahunan. Program Tagihan merupakan Sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran, tagihan merupakan tuntutan kegiatan yang harus dilakukan atau ditampilkan siswa. Jenis tagihan dapat berbentuk ujian lisan, tulis, dan penampilan yang berupa kuis, tes lisan, tugas individu, tugas kelompok, unjuk kerja, praktek, penampilan, atau porto folio.

B.     Tahap Penutup.
Kegitan penutup memiliki makna yang mendalam yaitu untuk memberikan gambaran utuh tentang proses yang sangat mendalam yaitu untuk memberikan gambaran utuh tentang proses tentang hasil yang dicapai, mungkin kelebihan dan kekurangan,renacana kedepan dan sebagainya. Oleh karena itu dalam menutup pembelajaran, agar memperoleh gambaran menyeluruh tentang suatu tujuan dan sasaran dari kegitan menutup pembelajaran, maka terdapat beberapa unsur,strategi, atau bahkan dapat menjadi prinsip, seperti berikut:
1. Merangkum, diantara kegitan yang dapat dilakukan dalam menutup pembelajaran salah satunya adalah merangkum. Merangkum pokok-pokok materi yang telah dipelajar siswa. Melalui kegiatan merangkum siswa diharapkan memiliki pemahaman yang utuh baik berkenan dengan konsep,prinsip , teori, maupun gagasan utama dari materi yang telah dipelajari siswa.
2. Mengajukan pertanyaan
Mengajukan pertanyaan kepada siswa dimana pertanyaan terebut dapat mendorong sisiwa untuk berfikir dengan cara mengungkapkan kembali pemahamannya terhadap materi yang telah dipelajari. Dari pertanyaan yang diajukan oleh guru, dapat diketahui mana saja materi yang sudah dikuasai, atau materi yang belum dikuasai.
3. Memberikan kesempatan siswa bertanya
Maksud memberikan kesempatan kepada siswa bertanya tentang materi yang belum dipahami, atau perlu kejelasan lebih lanjut dari guru. Guru dapat melempar jawaban kepada siswa lain untuk menjawab.
4. Menyimpulkan 
Memberi kesimpulan yang menggambarkan pokok isi materi pembelajaran yang telah dipelajari. Membuat kesimpulan tidak hanya dilakukan oleh guru, akan tetapi oleh siswa sendiri. Kesimpulan tidak sama dengan merangkum. Jika merangkum mungkin hanya sekedar mengulang kembali kata atau kalimat sesuai pokok-pokok materi. Adapaun kesimpulan berisi hal-hal yang bersifat pokok tersebut dirumuskan dengan cara bahasa sendiri, bahkan dapat berupa gambar atau konsep diagram.
5. Memberi tugas
Menutup pembelajaran guru memberikan tugas kepada siswa yang ada kaitannya dengan materi yang telah dipelajari. Tugas yang diberikan tidak lepas dari proses pembelajran yang telah dilakukan sebelumnya.
6. Refleksi
Guru mengajak siswa dengan cara yang jujur, terbuka, dan bertanggungjawab untuk merenungkan kembali terhadap aktivitas pembelajaran yang telah dilakukan. Mengecek kembali sejauh mana materi telah dikuasai, dan materi mana yang masih samar-samar atau sama sekali belum diahami.
7. Memberikan tes. 
Memberikan tes evaluasi mungkin adalah hal yang biasa dilakukan oleh guru dalam kegitan penutup pembelajaran. Memberikan tes tidak harus tertulis, lisanpun kadang lebih mengena terhadap pemahaman siswa. Dengan tes diharapkan siswaa akan terguguah kembali ingatannya terhadap materi yang telah dipelajari.
Keenam kegitan penutup diatas merupakan alternatif bagi guru untuk mengakhiri atau menutup pembelajaran. Tentu tidak harus melakukan keenam hal tersebut sekaligus. Perlu melihat materi dan aspek serta tujuan dari pembelajaran itu sendiri. Guru dapat mencoba membuat kegitan penutup selain keenam hal tersebut.
Dari kegiatan yang dilakukan dalam menutup pembelajaran, selain dapat berfungsi untuk mengecek pemahaman siswa , juga dapat dijadikan sarana umpan balik (feed back) bagi guru untuk mengetahui tingkat keberhasilannya dalam membimbing siswa . Informasi yang didapat dari umpan balik dapat bermanfaat bagi guru untuk merancang  dan melakukan perbaikan terhadap kekurangan kekurangan, sehingga pembelajaran dari waktu ke waktu akan semakin meningkat dan berkualitas.

PERMASALAHAN :
Bagaimana menurut teman-teman jika ada seorang guru yang tidak menerapkan fase pendahuluan dan penutup ini dengan benar? apakah proses pembelajaran tersebut dapat dikatakan efektif?







3 komentar:

  1. Bagaimana bisa terjadi proses pembelajaran tersebut jika fase pendahuluan dan penutup nya tidak ada, apakah guru tersebut langsung ke kegiatan inti gitu ya maksud mardhyati ? Menurut saya jika tidak ada fase pendahuluan dan penutup itu sangat tidak efektif karna siswa akan terkejut jika tiba-tiba guru masuk kelas langsung dihadapkan dengan materi pembelajaran dan keluar kelas langsung begitu saja tanpa adanya kegiatan penutup. menurut saya itu sangat tidak efektif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan tidak menerapkan fase pendahuluan dan fase penutup, melainkan penerapan yang dilakukan oleh guru belum benar ( belum sempurna)

      Hapus
  2. jika seorang guru tidak menerapkan fase pendahuluan dan fase penutup dengan benar maka akan terjadi miskonsepsi pada siswa, dimana siswa akan mengalami kesulitan untuk memahami materi yang sedang disampaikan oleh si guru tersebut. siswa kebanyakan akan bingung dan tidak lagi fokus dalam mengikuti proses pembelajaran.

    BalasHapus

Penelitian Tindakan Kelas Pada Pembelajaran Kimia

1. Penelitian Tindakan Kelas Menurut Tim Pelatih Proyek PGSM (M.Nur, 2001) dikemukakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu b...