Salah satu upaya untuk
meningkatkan mutu pendidikan di sekolah ialah dengan cara melalui perbaikan
proses pengajaran. Dimana didalamnya terdapat kegiatan belajar dan mengajar. Berbagai konsep dan wawasan baru tentang proses belajar mengajar di sekolah telah
muncul dan berkembang seiring pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi dengan tujuan untuk memenuhi tuntutan zaman yang menuntut agar
tercipta anak didik yang mampu membawa zaman ini lebih baik lagi, lebih maju
dan berkembang dari pada zaman yang telah lalu dan zaman sekarang dan mampu
mengembangkannya.
Dalam kaitannya dengan
tuntutan pendidikan yang harus mampu melahirkan dan menyiapkan anak didik yang
berkualitas, Guru adalah personel yang menduduki posisi penting dan strategis
dalam rangka pengembangan sumberdaya manusia dan yang selalu dituntut untuk
terus mengikuti perkembangan konsep-konsep baru dalam dunia kepengajaran
tersebut. Demikian pula para supervisor pendidikan, pengawas dan pengelola
lembaga pendidikan juga seyogyanya juga selalu mengikuti perkembangan itu.
Tentunya untuk
menjadikan pendidikan tersebut bermutu atau untuk meningkatkan mutu pendidikan
dengan semua proses yang ada didalamnya, termasuk pengajaran yang dilakukan
guru/ pendidik atau team pendidik dalam lembaga itu harus benar-benar membuat
suatu langkah atau tahapan-tahapan dalam pengajaran yang disesuaikan oleh
kondisi dan psikologi anak didik, agar pengajaran yang dilakukan bisa efisien
dan efektif.
A. Tahap Pendahuluan.
Dalam tahap pendahuluan
ini berisi tahapan perencanaan pembelajaran kedepan yang nantinya akan menjadi
pedoman untuk mencapai hasil apa yang diharapkan dalam akhir pembelajaran dan
tentunya akan dijadikan pedoman dalam proses pengajaran. Kegiatan pembelajaran
yang baik senantiasa berawal dari rencana yang matang. Perencanaan yang matang
akan menunjukkan hasil yang optimal dalam pembelajaran.
Perencanaan merupakan
proses penyusunan sesuatu yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang
telah ditentukan. Pelaksanaan perencanaan tersebut dapat disusun berdasarkan
kebutuhan dalam jangka tertentu sesuai dengan keinginan pembuat perencanaan.
Namun yang lebih utama adalah perencanaan yang dibuat harus dapat dilaksanakan
dengan mudah dan tepat sasaran. Begitu pula dengan perencanaan pembelajaran,
yang direncanakan harus sesuai dengan target pendidikan. Guru sebagai subjek
dalam membuat perencanaan pembelajaran harus dapat menyusun berbagai program
pengajaran sesuai pendekatan dan metode dan teori yang akan digunakan. Agar
pembelajaran yang ditempuh bisa efektif dan efisien.
Dalam perencanaan ini
ada beberapa tahapan yang menjadi strength point seperti yang dipaparkan
oleh Kemp lewat desain pengembangan pembelajaran PAI dalam model J.E.Kemp yang
berpijak pada empat unsur dasar perencanaan pembelajaran yang merupakan wujud
jawaban atas pertanyaan (1) untuk siapa program itu dirancang? Peserta didik,
(2) kemampuan apa yang ingin anda pelajari? Tujuan, (3) bagaimana isi
pelajaran/ keterampilan yang dapat dipelajari? Metode, (4) bagaimana anda
menentukan tingkat penguasaan terhadap pelajaran yang sudah dicapai? Evaluasi.[1][8], keempat point ini akan dijelaskan dibawah ini:
1. Merumuskan Tujuan/
Kompetensi Pengajaran
Yaitu perumusan tingkah
laku/ kemampuan-kemampuan yang dirumuskan secara khusus (spesifik), operasional
dan berupa jenis-jenis kemampuan/tingkah laku yang diharapkan dapat dimiliki
oleh anak didik setelah mereka mengikuti pelajaran-pelajaran yang kita berikan
kepada mereka. Namun sampai sekarang ini, teori pengukuran kecakapan/ kemampuan
masih berbasis pada teori taksonomi bloom yang diperkenalkan oleh
Benjamin S. Bloom. Salah satu contoh dari tujuan pembelajaran seperti dibawah
ini:[2][9]
Tujuan
Pengajaran
|
Proses
Mengajar
|
Siswa
dapat menyebutkan dengan tepat asmaul khusna
|
Mengajarkan
kepada sisa tentang asmaul khusna
|
2. Mengembangkan/
Mempersiapkan Alat-Alat Evaluasi
Langkah ini memiliki
fungsi yang nantinya digunakan untuk menilai sejauh mana siswa menguasai materi
yang telah diberikan dan yang telah dirumuskan dalam tujuan pengajaran
tersebut. Adanya persiapan alat evaluasi ini ditempuh dalam perencanaan
pembelajaran ini karena didasarkan pada prinsip pengajaran yang berorientasi
pada tujuan hasil (output oriented).[3][10] Jenis tes ini dapat meliputi tes lisan, tes tulis dan tes perbuatan/
praktek dengan menggunakan beberapa bentuk pertanyaan, diantaranya (1)Bentuk
uraian,(2)Bentuk pilihan jawab terbatas,(3)Bentuk melengkapi,(4)Bentuk
pertanyaan-pertanyaan yang menuntut jawaban singkat. Dalam suatu pelajaran bisa
dimungkinkan menggunakan beberapa atau lebih dari satu bentuk dan jenis
pertanyaan.
3. Merancang dan
Menetapkan Kegiatan-Kegiatan Mengajar
Dalam langkah ketiga
ini dapat berupa kegiatan-kegiatan yang akan ditempuh oleh guru dan siswa
selama proses pengajaran nantinya yang juga harus dirumuskan, agar siswa dapat
memiliki sikap dan kemampuan yang sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan.
Setiap tujuan bisa ditempuh dengan satu atau beberapa kegiatan belajar,
disesuaikan dengan kompleks tidaknya kemampuan yang terkandung dalam tujuan
pembelajaran. Agar tujuan tersebut benar-benar dapat tercapai.
4. Merencanakan Program
Kegiatan
Hal-hal pokok yang
harus ditetapkan dalam perencanaan program kegiatan:
a. Merumuskan materi
pelajaran beserta komponennya
·
Menyusun materi pelajaran tiap mata pelajaran. Dalam menyusun materi
pembelajaran hendaknya merupakan gabungan antara jenis yang berbentuk
pengetahuan (fakta dan informasi yang terperinci), keterampilan
(langkah-langkah, prosedur, keadaan dan syarat-syarat tertentu), dan sikap
(berisi pendapat, ide, atau tanggapan) (kemp,1997).[4][11] Bila perlu dalam menyusun materi pelajaran disertai
dengan uraian singkat dan contoh-contohnya agar memudahkan dalam menyampaikan
materi tersebut kepada siswa dan lebih terencana dan juga agar siswa lebih bisa
memahami dengan cepat.
·
Menyusun Silabus. Silabus diartikan sebagai garis besar, ringkasan,
ikhtisar, atau pokok-pokok isi atau materi pelajaran. Silabus merupakan
penjabaran dari standart kompetensi, kompetensi dasar yang ingin dicapai, dan
pokok-pokok serta uraian materi yang perlu dipelajari siswa dalam rangka
mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar.
·
Menyusun Rencana pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Rencana pembelajaran
bersifat khusus dan kondisional, dimana setiap sekolah tidak sama kondisi siswa
dan sarana prasarana sumber belajarnya. Karena itu, penyusunan rencana
pelaksanaan pembelajaran hendaknya didasarkan pada silabus terkait dengan
indikator, kegiatan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, sumber/bahan/alat
dan juga langkah-langkah pembelajaran dan kondisi pembelajaran agar kegiatan
pembelajaran dapat berlangsung sesuai harapan.
·
Penilaian Pembelajaran. Penilaian merupakan tindakan atau proses untuk
menentukan nilai terhadap sesuatu. Penilaian merupakan proses yang harus
dilakukan oleh guru dalam rangkaian kegiatan pembelajaran. Prinsip penilaian
antara lain : Valid, mendidik, berorientasi pada kompetensi, adil dan objektif,
terbuka, berkesinambungan, menyeluruh dan bermakna.
Yang harus diperhatikan
dalam hal memperkirakan besar kecilnya materi adalah penerapan teori Gestalt,
yaitu bahwa bagian-bagian kecil merupakan satu kesatuan yang bermakna apabila
dipelajari secara keseluruhan, dan keseluruhan tidaklah berarti tanpa
bagian-bagian kecil tadi.[5][12]
b. Menyiapkan metode yang
akan digunakan.
Metode pembelajaran
adalah cara guru mengorganisasikan meteri pelajaran dan peserta didik agar
terjadi proses secara efektif dan efisien. Banyak sekali macam-macam dari
metode-metode pembelajaran yang digunakan dalam mengajar, diantaranya (1)Metode
ceramah/kuliah, (2)Metode diskusi, (3)Metode demonstrasi, (4)Metode eksperimen,
(5)Metode pemberian tugas, dll.
c. Menyusun jadwal.
Dalam menyusun jadwal
kegiatan/ program pembelajaran, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan
harus dibuat, yaitu:
1. Analisis hari efektif,
hari libur, analisis program dan materi pembelajaran. Untuk mengawali kegiatan
penyusunan program pembelajaran, guru perlu membuat analisis hari efektif
selama satu semester. Dari hasil analisis hari efektif akan diketahui jumlah
hari efektif dan hari libur tiap pekan atau tiap bulan sehingga memudahkan
penyususnan program pembelajaran selama satu semester. Dasar pembuatan analisis
hari efektif adalah kalender pendidikan dan kalender umum. Berdasarkan hasil
analisis hari efektif dan materi pembelajaran tersebut, maka dapat disusun
program pembelajaran seperti pembuatan program tahunan, semester/ cawu,
pemilihan metode yang sesuai dengan kondisi yang ada, penyediaan alokasi waktu,
penyediaan sarana dll.[6][13]
2. Membuat program
tahunan, program semester dan program tagihan . Program Tahunan adalah
Penyusunan program pembelajaran selama satu tahun pelajaran dimaksudkan agar
keutuhan dan kesinambungan program pembelajaran atau topik pembelajaran yang
akan dilaksanakan dalam dua semester tidak mengalami kendala. Program Semester
adalah Penyusunan program per-semester yang didasarkan pada hasil anlisis hari
efektif dan program pembelajaran tahunan. Program Tagihan merupakan Sebagai
bagian dari kegiatan pembelajaran, tagihan merupakan tuntutan kegiatan yang
harus dilakukan atau ditampilkan siswa. Jenis tagihan dapat berbentuk ujian
lisan, tulis, dan penampilan yang berupa kuis, tes lisan, tugas individu, tugas
kelompok, unjuk kerja, praktek, penampilan, atau porto folio.
B. Tahap Penutup.
Kegitan penutup memiliki makna yang mendalam yaitu untuk memberikan
gambaran utuh tentang proses yang sangat mendalam yaitu untuk memberikan
gambaran utuh tentang proses tentang hasil yang dicapai, mungkin kelebihan dan
kekurangan,renacana kedepan dan sebagainya. Oleh karena itu dalam menutup
pembelajaran, agar memperoleh gambaran menyeluruh tentang suatu tujuan dan
sasaran dari kegitan menutup pembelajaran, maka terdapat beberapa
unsur,strategi, atau bahkan dapat menjadi prinsip, seperti berikut:
1. Merangkum, diantara kegitan yang dapat dilakukan dalam
menutup pembelajaran salah satunya adalah merangkum. Merangkum pokok-pokok
materi yang telah dipelajar siswa. Melalui kegiatan merangkum siswa diharapkan
memiliki pemahaman yang utuh baik berkenan dengan konsep,prinsip , teori,
maupun gagasan utama dari materi yang telah dipelajari siswa.
2. Mengajukan pertanyaan
Mengajukan pertanyaan kepada siswa dimana pertanyaan terebut dapat
mendorong sisiwa untuk berfikir dengan cara mengungkapkan kembali pemahamannya
terhadap materi yang telah dipelajari. Dari pertanyaan yang diajukan oleh guru,
dapat diketahui mana saja materi yang sudah dikuasai, atau materi yang belum
dikuasai.
3. Memberikan kesempatan siswa bertanya
Maksud memberikan kesempatan kepada siswa bertanya tentang materi yang
belum dipahami, atau perlu kejelasan lebih lanjut dari guru. Guru dapat
melempar jawaban kepada siswa lain untuk menjawab.
4. Menyimpulkan
Memberi kesimpulan yang menggambarkan pokok isi materi pembelajaran yang
telah dipelajari. Membuat kesimpulan tidak hanya dilakukan oleh guru, akan
tetapi oleh siswa sendiri. Kesimpulan tidak sama dengan merangkum. Jika
merangkum mungkin hanya sekedar mengulang kembali kata atau kalimat sesuai pokok-pokok
materi. Adapaun kesimpulan berisi hal-hal yang bersifat pokok tersebut
dirumuskan dengan cara bahasa sendiri, bahkan dapat berupa gambar atau konsep
diagram.
5. Memberi tugas
Menutup pembelajaran guru memberikan tugas kepada siswa yang ada kaitannya
dengan materi yang telah dipelajari. Tugas yang diberikan tidak lepas dari
proses pembelajran yang telah dilakukan sebelumnya.
6. Refleksi
Guru mengajak siswa dengan cara yang jujur, terbuka, dan bertanggungjawab
untuk merenungkan kembali terhadap aktivitas pembelajaran yang telah dilakukan.
Mengecek kembali sejauh mana materi telah dikuasai, dan materi mana yang masih
samar-samar atau sama sekali belum diahami.
7. Memberikan tes.
Memberikan tes evaluasi mungkin adalah hal yang biasa dilakukan oleh guru
dalam kegitan penutup pembelajaran. Memberikan tes tidak harus tertulis,
lisanpun kadang lebih mengena terhadap pemahaman siswa. Dengan tes diharapkan
siswaa akan terguguah kembali ingatannya terhadap materi yang telah dipelajari.
Keenam kegitan penutup diatas merupakan alternatif bagi guru untuk
mengakhiri atau menutup pembelajaran. Tentu tidak harus melakukan keenam hal
tersebut sekaligus. Perlu melihat materi dan aspek serta tujuan dari
pembelajaran itu sendiri. Guru dapat mencoba membuat kegitan penutup selain
keenam hal tersebut.
Dari kegiatan yang dilakukan dalam menutup pembelajaran, selain dapat
berfungsi untuk mengecek pemahaman siswa , juga dapat dijadikan sarana umpan
balik (feed back) bagi guru untuk mengetahui tingkat keberhasilannya dalam
membimbing siswa . Informasi yang didapat dari umpan balik dapat bermanfaat
bagi guru untuk merancang dan melakukan perbaikan terhadap kekurangan
kekurangan, sehingga pembelajaran dari waktu ke waktu akan semakin meningkat
dan berkualitas.
PERMASALAHAN :
Bagaimana menurut teman-teman jika ada seorang guru yang tidak menerapkan fase pendahuluan dan penutup ini dengan benar? apakah proses pembelajaran tersebut dapat dikatakan efektif?
Bagaimana bisa terjadi proses pembelajaran tersebut jika fase pendahuluan dan penutup nya tidak ada, apakah guru tersebut langsung ke kegiatan inti gitu ya maksud mardhyati ? Menurut saya jika tidak ada fase pendahuluan dan penutup itu sangat tidak efektif karna siswa akan terkejut jika tiba-tiba guru masuk kelas langsung dihadapkan dengan materi pembelajaran dan keluar kelas langsung begitu saja tanpa adanya kegiatan penutup. menurut saya itu sangat tidak efektif.
BalasHapusBukan tidak menerapkan fase pendahuluan dan fase penutup, melainkan penerapan yang dilakukan oleh guru belum benar ( belum sempurna)
Hapusjika seorang guru tidak menerapkan fase pendahuluan dan fase penutup dengan benar maka akan terjadi miskonsepsi pada siswa, dimana siswa akan mengalami kesulitan untuk memahami materi yang sedang disampaikan oleh si guru tersebut. siswa kebanyakan akan bingung dan tidak lagi fokus dalam mengikuti proses pembelajaran.
BalasHapus